Inovasi Departemen Agama Dalam Meningkatkan Mutu Madrasah
Departemen Agama menggulirkan program prestisius : Madrasah Bertaraf Internasional (MBI). Terobosan ini dilakukan di samping untuk meningkatkan mutu madrsah secara umum juga menawarkan sebuah model penididikan internasional bercirikan agama.
MBI – SNP Plus
Peningkatan mutu pendidikan madrsah dikembangkan melalui pola standarisasi yang mengacu pada standar nasional dan internasionl baik input, proses maupun outputnya sehingga memungkinkan siswa dapat menlanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi berkualitas baik dalam maupun luar negeri. Di standar pendidikan nasional yang dirujuk adalah standar yang ditetapkan Badan Standar Nasional Pendidikan (BNSP) yang mencakup isi, kompetensi lulusan, proses, pendidikan, sarana danprasarana, dana, pengeloaan dan penilaian.
MBI dikembangkan melalui dua cara : pertama , pembangunan MBI baru di sejulah propinsi; kedua, melalui peningkatan (up-grading) terhadap madrasah yang sudah ada. Melalui pendekatan ini, madrasah diharapkan memiliki keunggulan dalam ilmu pengetahuan , teknologi, pengetahuan agama dan akhlak mulia.
Gabungan Pesantren dan Sekolah Modern
Ciri khas MBI terobosan Departeman Agama ini terletak pada ide penggabungan keunggulan pesantren dan sekolah modern. Dengan sistem pesantren (boarding school system) siswa diharapkan memiliki kemampuan untuk mendalami agama dari sumber aslinya (kitab berbahasa arab) Sementara denng akunggulan sekolah modern diharapkan siswa dapat memiliki penguasaan saintek yang mumpuni. Hal demikian dimungkinkah karena proses pembelajaran di MBI memanfaatkan teknologi informasi secara maksimal. Dalam konteks ini, MBI dapat disebut sebagai SBI plus.
Mengutamakan Equality
MBI dibangun berdasarkan azas equality, yang merupakan gabungan antara equity (kesetaraan) dan quality (kualitas). MBI harus terbuka dan kompetitif secara akademik. Siswa yang masuk MBI diutamakan bukan karena latar belakang ekonomi dan sosial, melainkan potensi intelektual. Dengan equality, siswa dari keluarga tidak mampu juga bisa bersekolah asalkan memiliki prestasi akademik. Mereka diseleksi melalui tes yang cukup ketat dan bila lulus diberikan beasiswa penuh. Cara ini memberi kesempatan kepada masyarakat dari lapisan ekonomi bawah untuk memperoleh pendidikan yang baik.
Penguasaan Bahasa Internasional : Arab dan Inggris
Proses pembelajaran dengan menggunakan khususnya bahasa inggris dan bahasa Arab. Untuk kepentingan ini, disamping mengintensifkan pendalaman bahasa internasional, juga digunakan dalam proses pembelajaran. Bahasa inggris digunakan dalam mata pelajaran matematika dan sains, bahasa arab digunakan pada mata pelajaran agama. Sementara bahasa indonesia digunakan untuk pelajaran yang berhubungan dengan keindonesiaan. Dengan demikian, siswa diharapkan dapat menguasai tiga bahasa komunikasi, indonesia, sebagai bahasa komunikasi nasional, Arab dan inggris, sebagai bahasa komunikasi internasional.
Satu MBI Setiap Propinsi
Setiap provinsi punya kesempatan mendapat satu MBI, dalam hal ini, Bupati dan ketua DPRD dapat mengajukan permohonan ke Departemen Agama. Untuk saat ini baru terdapat 1 MBI, yaitu MAN Insan Cendikia Gorontalo. Ada belasan Pemerintah Daerah yang menandatangai kesepakatan bersama (MoU) pembangunan MBI, antara lain Pemkot Dumai, Pemkot Batam, Pemkab Padang Pariaman, Pemkab Musi Banyuasin, Pemkab Serdang Berdagai, Pemkab Indramayu, Pemkab Pekalongan, Pemkab LOmbok Timur, Pemkab Lombok Timur, Pemkab Maros, Pemkab Paser, Pemkot Palu dan Pemkab Tanah Laut. Ini menjadi bukti MBI di respon sangat baik.
Kehadiran MBI menjadi bukti keseriusan Departemen Agama dalam menjawab amanat UU Sisdiknas No 20 Tahun 2003 tentang pengembangan Madrasah Bertaraf Internasional untuk meningkatkan kualitas pendidikan Islam. Yang tak dalah penting adalah Madrasah Bertaraf Internasional mendidik anak-anak menjadi insan yang bermoral dan berintelektual tinggi serta berdaya saing tinggi.
Sumber : Tempo dan DEPAG


